Cadangan kas usaha kecil dihitung dari biaya tetap bulanan dikali jumlah bulan yang ingin kamu tutupi. Kalau biaya tetapmu Rp5,3 juta dan kamu memilih tiga bulan, targetnya Rp15,9 juta. Angka “tiga bulan” itu pilihan sendiri: template kalkulator dana darurat usaha di situs ini sengaja menyebut pengalinya bukan angka baku dari regulator mana pun, dan artikel ini memakai metode yang sama.
Biaya tetap yang masuk hitungan
Yang dihitung hanya pengeluaran yang jalan terus walaupun penjualan nol: sewa tempat, gaji karyawan, listrik dan air, internet dan langganan aplikasi, cicilan alat. Bahan baku tidak masuk, karena ikut turun saat penjualan turun. Di template, semua pos ini ditulis di sheet Biaya Operasional Bulanan, dan totalnya terjumlah otomatis di baris bawah.
Contoh bawaan template memakai empat pos:
| Pos | Per bulan |
|---|---|
| Sewa tempat usaha | Rp1.500.000 |
| Gaji karyawan | Rp3.000.000 |
| Listrik dan air | Rp500.000 |
| Internet dan langganan aplikasi | Rp300.000 |
| Total | Rp5.300.000 |
Contoh hitungan: target, selisih, dan lama menabung
Di sheet Hasil & Kebutuhan Dana Darurat ada tiga sel yang kamu isi: pengali bulan, dana yang sudah terkumpul, dan rencana menabung per bulan. Sisanya rumus.
Dengan pengali 3, dana terkumpul Rp0, dan menabung Rp500.000 per bulan:
- Kebutuhan = 5.300.000 x 3 = Rp15.900.000
- Selisih menuju target = 15.900.000 - 0 = Rp15.900.000
- Lama tercapai = 15.900.000 / 500.000 = 31,8, dibulatkan ke atas jadi 32 bulan (sama dengan angka di template)
Kalau 32 bulan terlalu lama, ubah angkanya dan lihat hasilnya. Misalnya kamu sudah punya Rp2.000.000 dan menabung Rp1.000.000 per bulan: selisihnya Rp13.900.000, jadi 14 bulan. Kalau memakai pengali 6, kebutuhannya Rp31.800.000, dua kali lipat. Hitungan seperti ini juga tersedia sebagai kalkulator dana darurat usaha yang bisa langsung diisi di browser.
Template menyarankan pengali lebih kecil, misalnya 3, untuk usaha dengan pemasukan stabil sepanjang tahun, dan pengali lebih besar, misalnya 6 atau lebih, untuk usaha musiman atau yang bergantung pada satu-dua pelanggan besar. Ini pertimbangan umum dari template, tanpa dasar penelitian.
Berapa lama cadangan menutup omzet yang turun mendadak
Hitungan di atas mengandaikan penjualan berhenti total, skenario paling buruk. Kalau omzet hanya turun separuh, cadangan bertahan lebih lama, karena sebagian biaya tetap masih tertutup laba kotor. Template tidak menghitung ini, jadi di bawah ini simulasi sederhana dengan angka rekaan:
- Omzet normal Rp20.000.000 per bulan, laba kotor 30% (setelah modal barang) = Rp6.000.000.
- Omzet turun 50%: laba kotor jadi Rp3.000.000.
- Biaya tetap Rp5.300.000, jadi kekurangan kas per bulan = 5.300.000 - 3.000.000 = Rp2.300.000.
- Cadangan Rp15.900.000 / 2.300.000 = 6,9, kira-kira tujuh bulan, bukan tiga.
Pakai persentase laba kotormu sendiri, dan ingat simulasi ini mengabaikan cicilan baru atau biaya mendadak. Gunanya menjawab “cukup berapa bulan” sebelum kamu menetapkan pengali.
Memisahkan, menyisihkan, mencatat
Cadangan yang tercampur di saldo harian cepat habis untuk hal lain, jadi taruh di rekening atau pos terpisah dan jangan dihitung sebagai kas bebas. Cara mencatat dua kas usaha berbeda mirip dengan memisahkan uang pribadi dan uang usaha, hanya pasangannya yang lain.
Untuk menyisihkan, lebih tahan lama memotong angka tetap di tanggal tetap, atau persentase kecil tiap ada uang masuk, daripada menunggu sisa akhir bulan. Misalnya Rp500.000 tiap tanggal 1, sesuai rencana di contoh tadi. Besarnya terserah kapasitas kasmu.
Catat saldo cadangan di kolom sendiri, dan tulis alasan tiap penarikan. Aturan pegangan: tarik hanya kalau operasional benar-benar terancam berhenti, misalnya mesin utama rusak. Diskon stok besar adalah keputusan belanja biasa dan harus dari kas operasional. Tinjau ulang biaya tetap dan targetnya setiap enam bulan atau saat sewa dan gaji berubah, lalu isi ulang kalau cadangannya terpakai. Opsi pencatatan lewat aplikasi ada di artikel aplikasi pencatatan keuangan gratis untuk UMKM pemula.