SI APIK adalah aplikasi pencatatan keuangan yang diterbitkan langsung oleh Bank Indonesia, bukan oleh startup fintech atau vendor kasir swasta. Namanya singkatan dari Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan, diluncurkan BI sejak 2017 dan tersedia gratis di Google Play, App Store, maupun lewat versi web. Yang membuatnya beda dari aplikasi pembukuan kebanyakan bukan soal fitur, tapi soal siapa yang merancang laporannya dan untuk apa laporan itu dipakai. Ada konsekuensinya juga: pembaruan aplikasi ini sudah lama berhenti, dan itu perlu kamu tahu sebelum mengunduhnya.
Diterbitkan Bank Indonesia, Bukan Aplikasi Pihak Ketiga
Di Google Play, nama pengembang yang tercantum persis adalah “Bank Indonesia Official”. Di App Store, publisher-nya “Bank Indonesia” dengan tautan dukungan yang mengarah ke situs resmi bi.go.id. Aplikasi ini tersedia lewat tiga jalur: Android dengan paket com.bi.siapikMobile, iOS dengan nama SIAPIK BI, dan versi web di bi.go.id/siapik/v110/. Ketiganya gratis. Harga di Google Play tercatat Rp0 lewat data resmi listing, bukan cuma klaim di halaman deskripsi.
Sasaran penggunanya jelas: UMKM, dan mayoritas usaha mikro. Dari 17.837 pengguna yang tercatat sejak peluncuran 2017 sampai akhir 2021, Bank Indonesia mencatat 99 persen di antaranya usaha mikro, dengan 40 persen berasal dari sektor manufaktur. Latar belakangnya bisa ditebak sendiri. BI menyebut UMKM menyumbang 60 persen PDB dan menyerap 96 persen tenaga kerja, tapi banyak pelakunya belum terbiasa mencatat keuangan usahanya secara rapi. Celah itulah yang coba ditutup lewat SIAPIK.
Soal fungsi aplikasinya sendiri, Bank Indonesia menjelaskannya dengan cukup umum: SIAPIK “dapat memudahkan UMKM dalam pencatatan transaksi keuangan usaha dan secara otomatis dapat menghasilkan laporan keuangan secara digital”. Sumber resmi yang berhasil ditelusuri untuk artikel ini tidak merinci nama-nama laporan spesifik yang dihasilkan, jadi lebih aman menganggapnya sebagai aplikasi pencatatan transaksi dengan keluaran laporan keuangan dan laporan kinerja usaha secara umum, bukan daftar fitur yang detail per menu.
Laporannya Dirancang untuk Kebutuhan Bank, Bukan Cuma Kamu
Ini bagian yang jarang ditulis artikel lain soal SIAPIK. Catatan yang dihasilkan aplikasi ini bukan cuma buat konsumsi internal pemilik usaha. Menurut BI Bicara, kanal layanan informasi resmi Bank Indonesia, pencatatan lewat SIAPIK “digunakan untuk melakukan pencatatan keuangan secara mobile yang selanjutnya dapat digunakan untuk mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan”. Buku pedoman yang menyertai aplikasi ini, Pedoman Literasi SIAPIK, menurut siaran pers BI Maret 2022 memang disusun agar memenuhi kebutuhan lembaga keuangan dalam melakukan analisa kredit.
Artinya, laporan keuangan yang keluar dari SIAPIK dibuat dengan format yang familiar buat petugas bank yang menilai kelayakan kredit, bukan sekadar rekap pemasukan dan pengeluaran ala buku kas biasa. Bank Indonesia bahkan pernah punya angka konkret soal hasilnya. Per akhir 2021, dari total pengguna SIAPIK yang ada, 724 UMKM sudah memperoleh pembiayaan dari perbankan dengan total Rp18,3 miliar. Angka ini sudah berumur lebih dari lima tahun dan tidak ada pembaruan resmi setelahnya, jadi jangan dibaca seolah ini capaian terkini. Tapi angka itu tetap jadi bukti bahwa jalur ini pernah benar-benar berfungsi, bukan sekadar janji di materi promosi.
Kalau kamu sedang menyiapkan berkas untuk mengajukan KUR, catatan keuangan dengan format yang sudah dikenal petugas bank ini bisa jadi nilai tambah yang tidak dimiliki kebanyakan aplikasi kasir komersial. Ini bukan sekadar klaim pemasaran karena berasal dari dua kanal resmi berbeda milik BI sendiri, bukan dari deskripsi promosi di toko aplikasi.
Yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Mengunduh
Bagian ini harus disampaikan terus terang di sini, bukan disembunyikan di paragraf penutup. SI APIK sudah lama tidak diperbarui secara aktif. Versi iOS terakhir mendapat update pada 18 Juli 2024, lebih dari dua tahun lalu dari sekarang. Riwayat versinya juga menunjukkan pola yang cukup jelas. Lima update dirilis berturut-turut dari Februari sampai Juli 2024, lalu berhenti total setelahnya, tanpa rilis baru sampai hari ini. Versi Android sedikit lebih segar, terakhir diperbarui 18 Maret 2025, tapi itu pun sudah sekitar 17 bulan lalu.
Rating pengguna juga rendah untuk aplikasi pemerintah yang sudah berumur sejak 2017. Tercatat 3,3 bintang dari 143 ulasan di Google Play dan 3,6 bintang dari 16 ulasan di App Store. Bandingkan dengan klaim belasan ribu pengguna yang pernah dipublikasikan BI, jumlah ulasannya kecil sekali. Ada juga detail kecil yang menunjukkan listingnya kurang terawat. Deskripsi resmi di Google Play mencantumkan alamat web “bi.go.id/sialik/”, perhatikan ejaannya, “sialik” bukan “siapik”, yang sekarang mengarah ke halaman error. Alamat yang benar-benar aktif adalah bi.go.id/siapik/v110/. Salah ketik semacam ini rupanya tidak pernah diperbaiki sejak listing itu dibuat.
Bukan berarti aplikasinya sudah mati sepenuhnya. Kamu masih bisa mengunduh dan memakainya sekarang, listingnya di kedua toko aplikasi masih aktif, tombol pasang masih berfungsi normal, dan halaman BI soal SIAPIK juga masih bisa diakses. Hanya saja tidak ada komunikasi publik terbaru dari Bank Indonesia soal SIAPIK sejak siaran pers Maret 2022, dan pola pembaruan yang melambat itu bukan sinyal bagus untuk aplikasi yang idealnya terus menyesuaikan diri dengan perubahan sistem operasi ponsel. Paling tepat menggambarkan statusnya sekarang: masih tersedia dan bisa dipakai, tapi bukan produk yang sedang aktif dikembangkan.
Untuk Siapa SI APIK Masuk Akal
Verdictnya cukup sederhana kalau melihat dua fakta di atas. SI APIK layak dicoba kalau tujuan utamamu adalah menyiapkan laporan keuangan yang bisa dipakai untuk mengajukan pembiayaan ke bank atau lembaga keuangan resmi, dan kamu tidak keberatan memakai aplikasi yang jarang diperbarui selama fungsi dasarnya masih berjalan. Statusnya sebagai produk resmi Bank Indonesia juga jadi nilai plus tersendiri kalau kamu memang mencari sesuatu yang berasal langsung dari otoritas keuangan, bukan aplikasi bikinan swasta.
Sebaliknya, kalau kebutuhanmu adalah aplikasi yang aktif dikembangkan, rutin mendapat pembaruan mengikuti versi Android atau iOS terbaru, dan bisa disinkronkan ke beberapa perangkat sekaligus, ada baiknya melirik opsi lain lebih dulu. Beberapa aplikasi pencatatan keuangan gratis di luar sana lebih rutin diperbarui dan bisa jadi pilihan yang lebih nyaman dipakai sehari-hari, meski tidak membawa nama resmi Bank Indonesia di baliknya.
Cara Mulai Pakai
Kalau kamu tetap ingin mencobanya, unduhannya gratis dan bisa langsung dicari lewat toko aplikasi dengan kata kunci “SIAPIK BI”. Tersedia untuk Android dan iOS, ditambah versi web kalau kamu lebih nyaman mengetik lewat layar komputer. Proses pendaftarannya mirip aplikasi pembukuan pada umumnya. Buat akun, masukkan data usaha, lalu mulai mencatat transaksi harian dari sana.
Satu saran praktis sebelum benar-benar bergantung penuh ke SIAPIK untuk kebutuhan pengajuan pembiayaan: coba dulu beberapa minggu untuk memastikan alurnya cocok dengan kebiasaan mencatatmu sehari-hari. Masukkan transaksi harian apa adanya, bukan data fiktif, supaya kamu langsung terasa apakah tampilannya nyaman dipakai berulang setiap hari atau justru bikin malas. Kalau ternyata kamu butuh fitur yang sudah lama tidak ditambahkan ke aplikasi ini, kebiasaan mencatat itu tetap bisa dipindahkan ke aplikasi lain kapan saja tanpa kehilangan disiplin yang sudah terbentuk.
Yang jelas, keputusan memakai SIAPIK atau tidak sebaiknya didasarkan pada kebutuhan konkret, bukan sekadar karena namanya membawa label resmi Bank Indonesia. Kalau kebutuhanmu memang menyiapkan riwayat pencatatan buat pengajuan kredit, statusnya sebagai aplikasi resmi tetap jadi nilai plus yang layak dipertimbangkan meski pembaruannya jarang. Untuk referensi tambahan seputar aplikasi dan template lain, koleksi lengkap pembukuan & keuangan usaha ada di sini.