BEP (break even point) adalah titik impas, yaitu jumlah penjualan saat total pendapatan sama dengan total biaya, jadi usaha tidak untung dan tidak rugi. Satu bungkus di bawah titik itu berarti bulan tersebut rugi, dan bungkus di atasnya mulai menyumbang laba.

Contoh di bawah memakai usaha keripik singkong fiktif dari template perhitungan HPP. HPP-nya Rp3.140 per bungkus dan harga jualnya Rp6.000. Biaya tetap bulanannya Rp750.000, angka yang sama dengan biaya operasional di contoh hitung omzet sampai laba bersih. Hasilnya 263 bungkus per bulan. Cara sampai ke angka itu, dan apa yang menggesernya, ada di bawah.

Biaya tetap dan biaya variabel di usaha kecil

Biaya variabel naik dan turun mengikuti jumlah yang kamu produksi. Biaya tetap keluar dengan nominal yang sama walau bulan itu hanya terjual sedikit.

Untuk keripik singkong, yang variabel adalah singkong, minyak goreng, garam, bumbu balado, dan kemasan. Upah pembuat serta gas dan listrik juga masuk di sini, karena di template keduanya dihitung per batch, jadi bertambah setiap kali kamu menggoreng satu batch lagi. Kalau semua dijumlahkan per bungkus, itulah HPP Rp3.140.

Yang tetap dalam contoh ini ada tiga:

  • Sewa dapur Rp400.000
  • Ongkos antar pesanan Rp250.000
  • Kuota dan promosi Rp100.000

Total Rp750.000 per bulan. Ongkos antar di sini diperlakukan tetap, mengikuti artikel omzet. Kalau ongkirmu dibayar per paket, ia sebenarnya variabel dan lebih tepat ditambahkan ke biaya per bungkus.

Ada tiga biaya yang sering terlewat saat menghitung BEP:

  • Gaji pemilik. Kalau kamu bekerja penuh di usaha sendiri dan tidak memasukkan upahmu, BEP terlihat lebih rendah dari yang sebenarnya.
  • Cicilan. Cicilan alat atau pinjaman usaha keluar tiap bulan dengan nominal tetap. Bagian bunganya masuk biaya. Bagian pokoknya secara akuntansi bukan biaya, tetapi tetap uang yang harus tersedia, jadi pemilik yang ingin tahu batas aman kasnya perlu memasukkannya juga.
  • Penyusutan alat. Wajan, kompor, dan mesin perajang dibeli sekali, tetapi nilainya habis dipakai pelan-pelan. Cara hitungnya, harga alat dibagi perkiraan masa pakai. Di contoh ini ketiga alat itu Rp2.000.000 (rincian di artikel omzet), dan dengan anggapan fiktif masa pakai 40 bulan, penyusutannya Rp50.000 per bulan.

Rumus BEP unit dan BEP rupiah

Semua rumus bertumpu pada margin kontribusi, yaitu sisa dari harga jual setelah biaya variabel satu unit dibayar. Sisa itulah yang tersedia untuk menutup biaya tetap.

Margin kontribusi per unit = Harga jual - Biaya variabel per unit
BEP unit   = Biaya tetap / Margin kontribusi per unit
BEP rupiah = BEP unit x Harga jual

Ada cara lain untuk BEP rupiah, berguna kalau kamu hanya punya rasio dan tidak ingin menghitung per unit.

Rasio margin kontribusi = Margin kontribusi / Harga jual
BEP rupiah = Biaya tetap / Rasio margin kontribusi

BEP unit biasanya dibulatkan ke atas, karena tidak ada setengah bungkus yang terjual.

Contoh lengkap: BEP keripik singkong

  1. Harga jual Rp6.000, biaya variabel (HPP) Rp3.140. Margin kontribusi Rp6.000 - Rp3.140 = Rp2.860 per bungkus.
  2. Biaya tetap Rp750.000. BEP unit Rp750.000 / Rp2.860 = 262,2, dibulatkan ke atas menjadi 263 bungkus.
  3. BEP rupiah 263 x Rp6.000 = Rp1.578.000.

Cara kedua memberi hasil sedikit berbeda. Rasio margin kontribusinya Rp2.860 / Rp6.000 = 47,67%, dan Rp750.000 / 0,4767 = sekitar Rp1.573.427. Selisihnya muncul karena langkah 2 membulatkan ke atas ke 263 bungkus utuh.

Hitung ulang dengan menguji dua sisinya. Pada 262 bungkus, margin kontribusi totalnya 262 x Rp2.860 = Rp749.320, kurang Rp680 dari biaya tetap, jadi rugi. Pada 263 bungkus, 263 x Rp2.860 = Rp752.180, lebih Rp2.180, jadi untung tipis.

Satu batch di template menghasilkan 80 bungkus, sehingga 263 bungkus berarti 3,29 batch. Dalam praktik kamu menggoreng 4 batch (320 bungkus, biaya produksi 4 x Rp251.200 = Rp1.004.800), dan 57 bungkus sisanya menunggu terjual. BEP menghitung bungkus yang terjual, sedangkan uang produksi sudah keluar lebih dulu.

Bulan contoh di artikel omzet menjual 700 bungkus. Jarak ke titik impasnya 700 - 263 = 437 bungkus, atau sekitar 62% dari penjualan. Penjualan baru perlu turun lebih dari 62% sebelum bulan itu rugi. Laba bersih bulan itu Rp1.252.000, yaitu 700 x Rp2.860 - Rp750.000.

Apa yang terjadi pada BEP kalau harga atau biaya berubah

Setiap skenario di bawah mengubah satu hal dari kondisi dasar, lalu BEP dihitung ulang dengan rumus yang sama. Semua angka fiktif, dihitung dari data template.

SkenarioMargin kontribusiBEP unitBEP rupiah
Dasar: harga Rp6.000, biaya tetap Rp750.000Rp2.860263Rp1.578.000
Harga naik ke Rp6.500Rp3.360224Rp1.456.000
Harga turun ke Rp5.500Rp2.360318Rp1.749.000
Harga turun ke Rp5.000Rp1.860404Rp2.020.000
Biaya variabel naik 10% (HPP Rp3.454)Rp2.546295Rp1.770.000
Harga minyak naik 20% (HPP Rp3.275)Rp2.725276Rp1.656.000
Biaya tetap naik ke Rp1.000.000Rp2.860350Rp2.100.000
Biaya tetap Rp1.800.000 (gaji pemilik Rp1.000.000 dan penyusutan Rp50.000 ditambahkan)Rp2.860630Rp3.780.000

Minyak goreng di template Rp54.000 per batch, jadi kenaikan 20% menambah Rp10.800 per batch, atau Rp135 per bungkus (Rp10.800 / 80). Baris biaya tetap Rp1.800.000 menjumlahkan Rp750.000, Rp1.000.000, dan Rp50.000.

Harga adalah tuas terkuat. Kalau turun Rp1.000 (16,7%), BEP bertambah 141 bungkus atau 54%, sedangkan kenaikan Rp500 hanya mengurangi 39 bungkus. Pengaruhnya tidak simetris karena harga turun menyusutkan margin kontribusi yang menjadi pembagi. Kenaikan biaya variabel 10% menambah 32 bungkus. Biaya tetap yang naik sepertiga, dari Rp750.000 ke Rp1.000.000, menambah 87 bungkus.

Dengan gaji pemilik dan penyusutan dihitung, BEP melonjak ke 630 bungkus, sekitar 8 batch. Pada penjualan 700 bungkus yang sama, laba bulan itu 700 x Rp2.860 - Rp1.800.000 = Rp202.000, jauh dari Rp1.252.000. Rp1.252.000 menjawab “berapa yang tersisa sebelum upah pemilik”, Rp202.000 menjawab “apakah usaha ini menutup upah pemiliknya sendiri”.

BEP untuk usaha dengan banyak produk

Kalau kamu menjual lebih dari satu produk, hitung margin kontribusi rata-rata tertimbang dari komposisi penjualan. Template yang sama punya satu produk lagi, brownies kukus mini, tetapi angkanya tidak dipakai di sini. Misalkan fiktif brownies punya margin kontribusi Rp5.000 per potong, dan dari setiap 10 produk terjual 7 keripik serta 3 brownies.

  • Margin kontribusi rata-rata: 0,7 x Rp2.860 + 0,3 x Rp5.000 = Rp2.002 + Rp1.500 = Rp3.502
  • BEP gabungan: Rp750.000 / Rp3.502 = 214,2, dibulatkan menjadi 215 produk, sekitar 150 keripik dan 65 brownies

Hasil itu hanya berlaku selama komposisinya tetap 7 banding 3. Kalau pembeli bergeser ke produk yang marginnya lebih kecil, BEP naik walau jumlah penjualan sama. Biaya tetap juga dibagi bersama tanpa mengalokasikannya ke tiap produk. Untuk keputusan per produk, hitung BEP-nya sendiri-sendiri dengan porsi biaya tetap yang kamu tetapkan.

Batas BEP

BEP hanya menjawab berapa yang harus terjual supaya tidak rugi. Ia tidak menjawab berapa yang perlu terjual agar laba sesuai harapan. Untuk target laba Rp1.000.000 per bulan, rumusnya (biaya tetap + target laba) / margin kontribusi: (Rp750.000 + Rp1.000.000) / Rp2.860 = 611,9, yaitu 612 bungkus.

Rumus BEP juga mengandaikan harga jual dan biaya variabel per unit sama di seluruh rentang penjualan. Diskon grosir, harga bahan yang turun saat belanja besar, atau biaya tetap yang melompat ketika kamu menyewa dapur kedua membuat garisnya tidak lurus. Pakai hasilnya sebagai patokan kasar, dan hitung ulang tiap harga atau biaya berubah.

Di Excel atau Google Sheets, BEP unit cukup satu rumus. Misal biaya tetap di sel B2, harga jual di B3, dan biaya variabel per unit di B4:

=ROUNDUP(B2/(B3-B4);0)

ROUNDUP membulatkan ke atas, dan titik koma ; dipakai untuk lokal Indonesia. Untuk mengisi HPP per unit di B4, pakai template HPP di atas, dan untuk melihat margin per bungkus sebelum memasukkan harga, ada kalkulator profit margin (buka di tab baru). Hasil BEP ini juga jadi dasar menentukan harga, seperti di artikel cara menentukan harga jual produk.