Omzet adalah total uang hasil penjualan dalam satu periode, dihitung sebelum dikurangi modal barang maupun biaya apa pun. Banyak orang menulisnya “omset”, tetapi bentuk bakunya dalam KBBI memakai z. Apa pun ejaannya, artinya sama, dan angka itu belum menunjukkan untung. Omzet Rp4.200.000 bisa berarti untung Rp1.252.000, bisa juga berarti rugi, tergantung apa yang dikeluarkan untuk mendapatkannya.
Penjelasan di bawah memakai satu usaha fiktif, keripik singkong 100 gram dari contoh template hitung HPP per produk, supaya omzet, laba kotor, laba bersih, modal, dan aset bisa dilihat dalam satu rangkaian angka yang sama.
Satu bulan usaha keripik singkong, dari omzet sampai laba bersih
Dari template, satu batch menghasilkan 80 bungkus dengan total biaya Rp251.200. Rinciannya: bahan baku Rp129.200 (singkong Rp64.000, minyak goreng Rp54.000, garam Rp1.200, bumbu balado Rp10.000), kemasan Rp40.000, tenaga kerja langsung Rp60.000, serta gas dan listrik Rp22.000. Dibagi 80 bungkus, HPP per bungkus Rp3.140. Harga jual Rp6.000, jadi laba kotor per bungkus Rp2.860.
Sekarang karang satu bulan: usaha ini memproduksi 10 batch, yaitu 800 bungkus, dan menjual 700 bungkus. Sisanya, 100 bungkus, masih tersimpan.
| Baris | Hitungan | Rupiah |
|---|---|---|
| Omzet | 700 bungkus x Rp6.000 | 4.200.000 |
| HPP bungkus yang terjual | 700 x Rp3.140 | 2.198.000 |
| Laba kotor | 4.200.000 - 2.198.000 | 2.002.000 |
| Sewa dapur | 400.000 | |
| Ongkos antar pesanan | 250.000 | |
| Kuota dan promosi | 100.000 | |
| Biaya operasional | 400.000 + 250.000 + 100.000 | 750.000 |
| Laba bersih | 2.002.000 - 750.000 | 1.252.000 |
Laba kotor bisa dicek dari cara lain: 700 bungkus x Rp2.860 per bungkus juga Rp2.002.000. Gas, listrik, dan upah pembuat sudah ada di dalam HPP, jadi tidak dihitung dua kali sebagai biaya operasional. Tiga baris biaya operasional di atas adalah biaya yang tetap muncul walau produksi hari itu sedikit.
Kalau kamu ingin menyusun tabel serupa dengan format laporan lengkap untuk usaha dagang, ada contoh laporan laba rugi sederhana untuk warung dengan susunan yang sama.
Omzet naik tidak otomatis untung naik
Kebanyakan pemilik usaha menilai bulan yang bagus dari omzetnya, karena angka itu yang paling mudah terlihat. Coba ubah contoh di atas. Usaha yang sama banting harga ke Rp3.300 per bungkus supaya laku lebih banyak, dan berhasil menjual 1.500 bungkus.
- Omzet: 1.500 x Rp3.300 = Rp4.950.000, lebih besar dari Rp4.200.000
- HPP: 1.500 x Rp3.140 = Rp4.710.000
- Laba kotor: 4.950.000 - 4.710.000 = Rp240.000
- Biaya operasional yang sama Rp750.000, jadi hasil akhirnya rugi Rp510.000
Omzet naik Rp750.000, tetapi labanya berubah dari untung Rp1.252.000 menjadi rugi Rp510.000. Dalam contoh ini biaya operasional sengaja dibiarkan tetap supaya pembandingnya sederhana. Di dunia nyata mengantar 1.500 bungkus hampir pasti memakan ongkos lebih besar, sehingga ruginya malah bertambah. Soal berapa harga yang aman, kalkulator profit margin (buka di tab baru) di tools.dailytech.id membantu menghitung dari HPP yang sudah kamu punya.
Mana yang modal, mana yang aset
Kata “modal” dipakai untuk dua hal berbeda, dan itu sumber banyak salah paham. Sehari-hari orang bilang “modal keripik Rp3.140”, artinya HPP per bungkus. Dalam arti keuangan usaha, modal adalah uang atau barang yang ditanamkan pemilik untuk menjalankan usaha, misalnya Rp1.500.000 uang kas untuk belanja bahan batch berikutnya, ditambah peralatan yang dibeli di awal.
Aset adalah semua yang dimiliki usaha dan punya nilai. Untuk usaha keripik di atas, keadaan akhir bulan bisa ditulis begini (angka fiktif):
| Aset | Jenis | Rupiah |
|---|---|---|
| Uang kas | Lancar, mudah dipakai | 1.500.000 |
| 100 bungkus keripik belum terjual | Lancar (stok), dinilai pada HPP | 314.000 |
| Wajan besar | Tetap, dipakai berulang | 350.000 |
| Kompor dua tungku | Tetap | 450.000 |
| Mesin perajang singkong | Tetap | 1.200.000 |
| Total aset | 3.814.000 |
Stok senilai Rp314.000 dihitung dari 100 x Rp3.140, bukan dari harga jualnya, karena Rp314.000 itulah uang yang sudah keluar untuk membuatnya. Wajan, kompor, dan mesin perajang tidak masuk HPP per bungkus. Mereka dibeli sekali dan dipakai berbulan-bulan, jadi masuk aset, bukan biaya bulan pembelian.
Ada satu jebakan lagi di angka kas. Bulan ini usaha mengeluarkan biaya produksi untuk 10 batch (bahan, kemasan, upah, gas, dan listrik), total Rp2.512.000 (10 x Rp251.200), padahal HPP bungkus yang terjual hanya Rp2.198.000. Selisih Rp314.000 itu sedang tertahan sebagai 100 bungkus stok. Karena itu uang kas di laci bisa lebih tipis dari laba bersih Rp1.252.000, dan itu bukan tanda ada yang salah.
Empat istilah, satu usaha: perbandingannya
Angka-angka dari usaha keripik tadi bisa disejajarkan supaya beda omzet dan laba terlihat langsung.
| Istilah | Artinya | Di contoh keripik |
|---|---|---|
| Omzet | Seluruh uang penjualan, belum dikurangi apa pun | Rp4.200.000 |
| Laba kotor | Omzet dikurangi HPP bungkus yang terjual | Rp2.002.000 |
| Laba bersih | Laba kotor dikurangi biaya operasional | Rp1.252.000 |
| Aset | Yang dimiliki usaha dan bernilai (kas, stok, peralatan) | Rp3.814.000 |
Omzet dan laba menjawab pertanyaan “seberapa banyak yang terjual” dan “seberapa banyak yang tersisa”. Aset menjawab pertanyaan lain lagi, yaitu “apa yang dimiliki usaha saat ini”. Karena itu aset Rp3.814.000 tidak boleh dibaca sebagai untung, dan omzet Rp4.200.000 tidak boleh dibaca sebagai uang yang bebas dipakai.
Cara memakai urutan ini di usahamu
Mulai dari HPP per produk, karena semua baris lain bergantung padanya. Isi bahan, kemasan, upah, gas, dan listrik di template, baca HPP per unit, lalu kalikan dengan jumlah yang terjual bulan itu, bukan jumlah yang diproduksi. Setelah itu kurangkan biaya operasional dan kamu punya laba bersih. Terakhir, daftar peralatan dan stok yang kamu miliki sebagai aset, supaya kamu tahu apa yang benar-benar dimiliki usaha selain uang kas.
Kalau penjualanmu sudah tercatat harian, omzet bulanan tinggal dijumlahkan. Template catat kas memakai kategori Penjualan untuk itu, lalu kategori HPP - Modal Barang dan Operasional untuk dua pengurangnya. Untuk usaha yang membuat barang sendiri seperti keripik ini, HPP lebih akurat kalau dihitung per batch lewat template HPP, bukan dari total belanja bulanan yang di dalamnya ikut tercampur bahan untuk batch bulan depan.